Metafisik dibalik Gempa Jogja

Tuesday, September 5th, 2006 § 13 Comments


Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun, terutama pembaca blog saya ini. Tulisan ini saya buat, berkat oleh-oleh cerita dari “orang tua” yang baru balik dari Jogja untuk kegiatan nyekar, sowan, sungkem, minta restu dan melepas rindu tentunya.

Tanpa kurang dan tambah, begini ceritanya:

  1. Diberitakan di beberapa media, Sultan Jogja dan Kanjeng Ratu Hemas pernah menegur Mbah Marijan untuk turun gunung. Mengingat saat itu Gunung Merapi sudah mengalirkan lava dan mengeluarkan asap “wedus gembel” pekat. Tetapi diberitakan pula bahwa Mbah Marijan tidak akan turun gunung. Malahan pernah menghilang 3 hari lamanya dan konon kata petugas penjaganya, Mbah Marijan ditemani 2 orang lainnya naik ke atas gunung dan menghilang dalam kegelapan malam.
  2. Sejarah Jogja turut menyertakan kisah Ratu Selatan, Gunung Merapi, Tugu dan Keraton Raja. Gempa terlihat sebagai satu tarikan dari Pantai Selatan ke arah utara menuju Gunung Merapi. Konon saat itu, Ratu Selatan berkunjung ke “Istana” Gunung Merapi dengan membawa iring-iringan kereta kencono dengan jumlah kuda yang sangat banyak. Gempuran kaki kuda ditambah berat kereta itulah yang menyebabkan gempa satu jalur (satu tarikan).
  3. Saat itu beberapa kereta kencono yang berada di Keraton Raja ada yang terbakar dan rusak cukup parah. Sosok imaginer kereta itu yang digunakan Ratu Selatan. Kereta terbakar dan rusak cukup parah karena harus membentur komposisi bumi yang cukup padat ini.
  4. Beberapa hari kemudian, aktifitas Gunung Merapi pun reda. Dan Mbah Marijan menjadi sosok heroik dan simbol “kasih alam” di Jogjakarta. Ini adalah kekuatan “budaya dan orang” Jogja terhadap Tuhan Yang Satu.

Bagaimana pendapat anda ? Percaya atau tidaknya anda, sekali lagi terpulang kepada anda. Wallahu a’lam bishawab

§ 13 Responses to Metafisik dibalik Gempa Jogja

  • dhany says:

    JOGJA.. Yogya, djokja, yogyakarta atau apapun..
    yang kita mau maen kesana minggu ini

  • rfirmans says:

    selamat pulang kampung mas dhany… –saya sudah lihat blog anda juga loh

  • nurid says:

    Ya itu kan kata orang bisa begitu. Gimana ya… Siapa saja bisa bilang macem-macam. Orang lidah orang tidak bertulang. Yang jelas peristiwa itu bisa kita tarik pelajarannya yang banyak. Gitu…

    • gajahnusantaramara says:

      Mohon maaf , atas kehendak & ketentuan dan pilihan Tuhan kita semua ini diberi kesempatan , fasilitas dan kenikmatan hidup di Bumi Nusantara ini bukan di bumi lain ,jadi mohon jangan diingkari , dikhianati dan di rusak kehendak dan ketentuan . Kalau masih pada mengagung – agungkan budaya dan bumi lain tinggal nikmati marahnya bumi ( gempa ) marahnya air ( banjir & tsunami ) marahnya angin ( puting beliung & badai ) marahnya matahari ( badai matahari )

    • gajahnusantaramarah says:

      Coba kita semua belajar tahu diri , kaji diri , kenal diri supaya punya jati diri supaya dalam menjalani hidup tidak lupa diri .Dan mohon kita semua jangan mangkir dari fakta , realita dan kenyatan yg kita rasakan dan nikmati dalam kehidupan sehari – hari bahwa janin , tulang dan dan daging yang membungkus jiwa raga kita ini dari sari alam bumi Nusantara bukan dari bumi bangsa lain .Tapi mayoritas di bangsa ini lebih mengagung – agungkan dan mengkul tuskan bumi lain, Siapa saja , bangsa apa saja dan di mana saja yg telah ikut andil mengingkari , mengkhianati dan merusak segala keindahan , kemakmuran , kekayaan , kebenaran dan keadilan di bumi Nusantara ini ya tinggal nikmati saja marahnya alam bumi Nusantara ini. trims Mohon maaf

  • yana says:

    saya tidak percaya,nyiroro kidul itu hanya jin/hanya jabatan di alam jin

    tong percaya sing cilaka,pesan untuk anak jogya jangan percaya……………!!!!!!!!!!!

  • kakaru says:

    wah..kalo derap kaki kuda balatentaranya nyi roro kidul yang sekian banyak bisa bikin gempa/longsor..kok hutannya ga gundul dimakanin kudanya yaaa???..he..he..he..kudanyanya cuma makan plankton2 laut selatan kali yaa…

  • Dear all

    Wah ga tahu juga ya, saya yang medok islam aja sempat percaya bahwa nyiroro Kidul itu ada…

  • y.Hendrayana says:

    masing masing hati sebetulnya punya jawaban yang tak mungkin terbohongi oleh siapapun…….
    tapi terkadang hati kita terlalu tertutup untuk melihat kenyataan…
    dan kita haruslah percaya dan yakin bahwa tingkat keshalehan dan keimanan seseorang bertingkat tingkat..

    hayooo tahu kan tingkat keimanan masing masing ada di mana…
    heee..

  • mudho says:

    pasukan setia mati untuk kraton jogja

  • ganjur says:

    orang udah pd punya bendera dibulan, kita masih ajaaa.. ngomongin sikidul..

  • alanzoa says:

    gmana bang kita mo maju sejajar dg bangsa yg sdh maju, klo otak dan pikiran nya msh di susupi hal-hal yg berbau mistis. he.. he.. he..

  • dewi says:

    Kalau legenda Kanjeng Ratu saya sangat percaya,maaf beliau sering datang ke saya dengan petuah-petuah yang yang manusia tdk mengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Metafisik dibalik Gempa Jogja at the sky is not the limit.

meta

%d bloggers like this: