Banjir vs Teknologi

Thursday, February 1st, 2007 § Leave a comment


SubhanaAllah… memang Allah sudah menjelaskan bahwa alam ini memang untuk digunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran bersama. Kata “kemakmuran bersama” sangat ditekankan. Dan firman Allah tsb adalah apabila tidak digunakan sebaik-baiknya, tunggulah bencana yang akan menimpa.

Di ayat yang lain, Allah berfirman, sebaik-baiknya urusan adalah yang dikelola dan dimanajemeni oleh para pakar, para ahli. Dan ayat itupun ditutup dengan, apabila tidak dikelola olehnya (para pakar tsb) tunggulah kehancurannya.

Alhamdulillah 1996 saya sempat main ke Den Haag dan Amsterdam. “Main-main” saya waktu itu agak panjang, sehingga saya dianugerahi banyak sekali manfaat, terutama ilmu dan informasi. Dari sekian informasi yang saya peroleh, informasi tentang pengelohan air dengan dam-dam yang sangat canggih, kuat dan manfaat.


Untuk informasi anda bahwa menurut beliau (sumber informasi saya) yang melengkapinya dengan sederet referensi (pokoknya ilmiah deh), negara Belanda memang terletak agak menjorok ke dalam dibanding dengan permukaan laut. Oleh karena itu disain negara kincir angin itu diwarnai dengan bendungan-bendungan. Disain bendungan yang cantik, efektif, berteknologi dan yang pasti sangat manfaat. Selain pengelolaan air untuk anti banjir, juga untuk mengairi lahan pertanian, alat transportasi air dan tentu saja sebagai pembangkit listrik.

Tidak heran listrik di Belanda relatif lebih murah dibanding negara Eropa lainnya. Juga hasil pertanian mereka, selain lebih baik mutunya juga lebih murah. Alhamdulillah saya bisa memuaskan selera makan Indonesia saya di sana. Alias saya nggak kelaparan dan tentunya rasa home-sick sedikit berkurang.

Rasanya sangat banyak mahasiswa Indonesia yang bersekolah disana. Kunjungan saya ke sana bukan untuk sekolah, melainkan untuk sosialiasi ke beberapa perwakilan Indonesia tentang produk teknologi informasi yang sudah dimiliki Departemen Luar Negeri saat itu. Jadi, itulah… kenapa saya menggunakan kata “rasanya”. Beberapa kali saya jumpa dengan mahasiswa S2 dan S3 yang berasal dari Indonesia yang memilih studi tentang lingkungan disana. Baik melalui beasiswa NEC maupun dari Oto Bappenas.

Anyway, maksud yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah… banyak –kalo boleh saya katakan demikian, — banyak lulusan negeri kincir angin tersebut yang sejogjanya bisa membantu Indonesia untuk mendisain tata ruang perkotaan, teknologi lingkungannya sampai dengan permasalah sampah. Ehhh tenan loh, tentang sampah, sewaktu saya riset di Universiti Kebangsaan Malaysia, saya jumpa 3 orang mahasiswa Indonesia S3 di Universiti Malaya, Malaysia bidang studi “persampahan” –hebat betul.

Semoga tulisan ini menggugah birokrasi Indonesia untuk menerima mereka yang berpikir secara IDEAL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Banjir vs Teknologi at the sky is not the limit.

meta

%d bloggers like this: