ERP di Blok M – Kota

Tuesday, March 13th, 2007 § 2 Comments


erpGaung sudah tersebar bahwa “Sutiyoso akhirnya mendengar nasehat konsultan dari kalangan akademisi”. Ide pemberlakuan ERP (electronic road pricing) akhirnya disetujui Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Ide ini berawal sebagai sebuah cara yang elegan untuk atasi kemacetan dan polusi yang terbukti berfrekuensi sangat tinggi nilai kontaminasinya di area sepanjang Blok M hingga Kota (sebenarnya daerah Kuningan juga termasuk tinggi).

ERP yang diperkenalkan oleh Hongkong (1983) memang solutif untuk atasi kemacetan dan polusi, khususnya di lahan negara (atau daerah) yang terbilang sangat sempit. Kontaminasi yang dimaksud meliputi polusi udara, kebisingan dan kelembaban. Ide penggunaan ERP di area emas itu sebenarnya sudah 3 tahun lalu. Bertepatan dengan ide pembangunan Bus-Way. Entah kenapa Pemda Jakarta justru memenangkan ide Bus-Way ketimbang ERP sebagai langkah ke depan Pemda. Dilihat dari alasan penelitian akademik hasil kajian Universitas Indonesia, sangat bertolak belakang. Anda bisa bayangkan, untuk atasi kemacepat di jalan Jakarta, diambil contoh negara dari struktur dan pola sosio-ekonominya jauh berbeda dari Jakarta. Ya, Columbia itu maksudnya. Kenapa tidak ambil contoh Singapura yang 100% memiliki kesamaan dengan Indonesia.


Sesuai Kompas Online, Pemda Jakarta akan memberlakukan ERP pada tahun 2008. Sebagai langkah uji coba diperlakukan terlebih dahulu di jalur emas ini. Mudah-mudahan berikutnya secara bergilir akan diberlakukan pula daerah emas lainnya.

Di sore hari yang sejuk dan hujan rintik-rintik ini, saya membuat analisa sekedarnya tentang ERP dan penerapannya di Jakarta. Yah hitung-hitung berusaha menjadi warga negara yang baik.

Ditinjau Dari Efek Teknologi

Malaysia memperkenalkan ERP ini dengan nama Sistem Kadar Jalan Elektronik. Fokus Kerajaan Malaysia adalah melakukan sosialisasi sebanyak-banyak dan sederas-derasnya hingga ke akar rumput (grass-root). Pengenalan tentang teknologi ERP dan konsekuensinya cukup memakan waktu. Maklum, rakyat Malaysia terbilang kritis untuk urusan kemacetan jalan raya, fasilitas umum dan pengeluaran sekian Ringgit dari koceknya.

store cardPengadaan ERP Car Box, alat pemancar yang direkatkan di kaca depan mobil, harus kontinu dan layak untuk dipasarkan. Penyediaan Farecard machine yang merata dan mudah diperoleh. DebitCard yang baik dari sisi fisik dan aman dari sisi data. Antisipasi teknologi keamanannya menjadi prioritas utama.

Jakarta harus memikirkan itu. Setidaknya Farecard Machine harus aman dari jangkauan tangan-tangan jahil. Masih inget adik-adik kita (atau bahkan generasi kita) yang memperdaya Telpon Box Kartu. Mereka (menyebutnya dengan nama Phreaker) memperdaya telpon box kartu untuk mengisi kartu mereka. Hebat ya. Kalau dipikir-pikir, PT Telkom rugi berapa ya? (Pak Adnya-ada komen???)

Ditinjau Dari Efek Moral

Pengalaman penerapan aplikasi ERP di Singapura, terdapat beberapa kasus pengemudi yang menggunakan kendaraan yang extra bagus. Seperti Ferari, Lamborghini dan mobil lainnya yang ber-cc-besar. Ngebut dibawah sensor, sehingga tidak terbaca oleh ERP Reader. Kasus ini memerlukan perhatian khusus, sehingga adjusting sensor-nya sedikit banyak perlu disesuaikan.

Pengalaman membuktikan, Singapura yang diback-up dengan sistem peradilan yang komprehensif dan computerize, sedikit banyak mempermudah control system terhadap pelanggaran jalan raya.

Efek Hukum

Singapura dan Hongkong sudah membuktikan. Pelanggaran terhadap ERP dapat mudah ditelusuri. Bagaimana dengan di Jakarta? Apakah boleh mobil tanpa ERP Car Box memasuki daerah emas? Bagaimana cara kontrolnya? Apakah perlu patroli polisi seperti patroli joki three-in-one?

Semua permasalahan itu harus clear dulu sebelum realisasi. Juga mekanisme setelah pelanggaran, sangat perlu ditentukan dan disosiliasikan.

Ehm… saya berpikir, akan sangat kompleks dan ribet sekiranya tidak direncanakan dengan matang. Anda sependapat? Atau ada komentar membangun lainnya? Silahkan…

Referensi:
1. Kompas Online
2. Artikel Electronic Road Pricing di Wikipedia
3. Berbagai sumber tentang Fraud Telpon Umum Kartu (TUK Chip)

§ 2 Responses to ERP di Blok M – Kota

  • adisty says:

    so menurut anda mekanisme ERP seperti apa yang bisa diterapin di indonesia?
    klo kontrolnya menggunakan patroli polisi akan sangat sulit dan sangat tidak efektif n efisien.
    tetapi jika diterapkan persis seperti di singapura apakan nantinya masyarakat dan pemerintah sudah siap?tetapi mekanisme di singapura akan memudahkan dalam implementasi tetapi membutuhkan cost yang tinggi.

  • rfirmans says:

    #Adisty

    Saya punya pengalaman ikut riset Traffic Management System di Singapura dan Hongkong –mantab betul mas

    Dari sisi teknologinya saja sudah mantab bukan main. Apalagi ditambah dengan handalnya hukum dan pelaksanaan tertib hukum dari hilir sampe hulu dan dari hulu sampe hilir.
    Ehhh ditambah pula dengan tersedianya dukungan dana sosialisasi yang memakan biaya yang sangat mahal.

    Tetapi yang lebih utama adalah peran serta masyarakat yang suanggaaattt aktif disana. Ini memang tidak mudah mas. Tetapi dengan kemauan dan kesadaran masyarakat untuk memperbaiki lingkungan tempat mereka tinggal –masyarakat dengan sadar, peduli dan proaktif membantu kesuksesannya.

    Bisa anda bandingkan dengan BusWay?
    atau dengan layanan Bus Umum di Jakarta?

    Pertanyaan saya; apakah anda termasuk oknum masyarakat yang tidak peduli dengan busway?
    atau apakah anda masih jegat bis diluar halte/shelter?
    atau apakah mesin motor/mobil anda tidak termasuk kategori Euro2?

    Terus terang, saya adalah contoh buruk itu … hehehe -maaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading ERP di Blok M – Kota at the sky is not the limit.

meta

%d bloggers like this: