Ekspor Asap vs Kepedulian Negara Tetangga

Wednesday, August 22nd, 2007 § Leave a comment


//File ini adalah posting lama yang saya temukan kembali
//Terima kasih ScribeFire
//——————————————————–

Singapura dan Malaysia melayangkan protes keras kepada pemerintah Indonesia. Bahkan KBRI di Kuala Lumpur pun tidak luput dari demo. Kemarahan kedua negara tadi memang beralasan. Bayangkan saja, kota Singapura plus Pulau Sentosa-nya yang hijau, indah dan nyaman itu mendadak diserang oleh kabut asap pembawa penyakit. Sebut saja, penyakit inspeksi saluran pernapasan, penyakit yang paling dominan diderita oleh rakyat Singapura. Bahkan beberapa rumah sakit secara mendadak kebanjiran pasien, dari pasien akibat inspeksi pernapasan sampai dengan pasien akibat kecelakaan lalu-lintas karena pendeknya jarak pandang pengendara kendaraan bermotor.

Malaysia dengan beberapa negerinya yang berdekatan dengan Indonesia, sebut saja Kuala Lumpur, Kota Kinabalu dan Kuching pun terasuki asap kelam pembawa sesak nafas. Beberapa sentra bisnis pun terganggu. Jadi wajar kalau kelompok pemuda dari partai pembangkang (bukan UMNO) mendemo KBRI di Kuala Lumpur dan memaksa masuk ke wilayah kantor, demi untuk meminta Indonesia segera menanda-tangani ratifikasi lingkungan hidup.

Penjelasan tentang perihal Indonesia tidak mau menandatangani ratifikasi, tentu saja menjadi perhatian Komisi VII DPR. Adalah Sony Kheraf (PDIP) yang menolak dengan tegas untuk meluluskannya.
“Kenapa harus bargaining dengan hal seperti ini?”, kilahnya.  

Ekspor Oksigen dan Limbah B3

Marahnya kedua pemimpin negara tetangga tersebut, melayangnya nota protes keras, aksi demo dan beberapa tekanan dirasakan dipundak SBY. Itu sebabnya Menteri Rahmat Witoelar dan Anggota Komisi VII Sony Kheraf menjelaskan posisi ini dalam wawancara di stasiun MetroTV (17/10). Tujuannya hanya satu, meminta kesepakatan ASEAN untuk menangani masalah asap bersama.

“Perlu juga ditegaskan, asap ini hanya efek”, tegas Sony.
Sony pun menambahkan, “Kejadian asap ini kan hanya 3 bulan maksimum 4 bulan saja dalam setahun”
“Sisanya Indonesia mengekspor oksigen”.
“Jadi, kenapa mereka tidak protes ketika Indonesia mengekspor oksigen”, sambung Sony dengan nada tinggi.”Satu lagi”, tambah Sony dengan semangatnya.
“Apa jawaban Singapura ketika Indonesia memprotesnya karena ketahuan mengekspor limbah B3 ke wilayah Indonesia?”
“Singapura hanya berdalih, ini diluar wewenang pemerintah, ini urusan pengusaha pemilik industri”
“Sikap tetangga seperti apa ini”, masih dengan nada yang tinggi.

“Lebih parah lagi, anda bisa melihat kedua negara itu”, sambungnya.
“Masuk ke wilayah Indonesia, mengambil kayu-kayu kita, menggunakannya dan bahkan menjualnya ke negara lain”
“Jangan lupa, mereka masuk dan mengambil tanah dan pasir Indonesia juga”

“Berbagai cara mereka lakukan. Sebut saja, mereka masuk ke wilayah Indonesia dengan program tanaman industri”.
“Dulu kala, sebagian kecil masyarakat Indonesia memang membuka lahan dengan cara membakarnya”.
“Tapi ingat, itu hanya sebagian kecil, sebagian kecil”, sambung Sony menegaskan.
“Karena mereka masih memiliki kearifan tradisional. Mereka mempunyai batasan adat-budaya. Masyarakat kita tidak serakah”, jelasnya.

“Tapi anda bisa lihat, sejak beberapa tahun silam, dengan masuknya program tanaman industri, pengusaha-pengusaha negara tetangga mendorong dan bahkan mensponsori untuk membuka lahan seluas-luasnya”.
“Perkebunan sawit dimana-mana”.
“Hutan digundul, kayu diambil, bibit sawit diimpor, minyak sawit diambil dan dijual atas nama negara mereka”.
“Karena iming-iming perbaikan kesejahteraan, masyarakat kita melakukan pembakaran hutan untuk membuka lahan”.
“Jadi dimana kepedulian mereka?”, tanya Sony dengan nada semakin tinggi.

“Jadi apakah pemerintah dan DPR akan menyetujui ratifikasi tersebut?”, tanya Najwa Sihab dari MetroTV.
“Cepat atau lambat, kita harus menjelaskan kedudukan kita”, sambung Sony mengakhiri wawancara.

oleh rfs untuk Detik.Com

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ekspor Asap vs Kepedulian Negara Tetangga at the sky is not the limit.

meta

%d bloggers like this: