Turis Indonesia Diancam Oknum Polisi Malaysia (lagi?)

Wednesday, September 5th, 2007 § 10 Comments


Masih inget kasus pemukulan wasit Indonesia yang memiliki sertifikat wasit internasional, yang disiksa oleh oknum polisi malaysia ? Ini ada kasus sejenis, kali ini menimpa keluarga Indonesia yang sedang berlibur ke malaysia.

Kalau tidak ditahan oleh rekan polisinya, mungkin juga sudah memar wajahnya Budiman. Kasihan keluarganya yang shock dan trauma.

Sumber : Milis Beasiswa

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN kejadian pertama. Berhubung sdr Donald adalah seorang Tamu Negara hingga kasusnya ter-expose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2 anak, adik ipar), pertama kalinya kami “melancong” ke Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap. Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya Kuala Lumpur cukup aman. Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower (KLCC).

Saat berjalan santai, tiba-tiba sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang “Polis”, memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel.

Mereka memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?). Salah satu “polis” ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak sopan dan Istri saya mulai ketakutan.

Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya

“kerja ape kau disini?”

Saya melongo… kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab.

Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:

KAU KERJA APE?
Punya Licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal.

Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang: “mana kunci Hotel?”… wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang:

“Indon… dont lie to us. Saya kurung kalian…”

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka habis2an. Sambil memegangi tangan saya, polisi itu meludah kesamping, dan bilang:

“kalian semua sama saja…”

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara bertiga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi. Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami.

Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:

if those indon run, just shoot them…
katanya sambil menunjuk istri saya.

Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”. Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.

Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines.

Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan

“membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di malaysia”.

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini. Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka. Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan.

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000 WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia. Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih.

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA.
Di Malaysia, WNI diperlakukan seperti Kriminal
.

Tagged: ,

§ 10 Responses to Turis Indonesia Diancam Oknum Polisi Malaysia (lagi?)

  • Ken Zurnala says:

    Semoga mereka punya pandangan lebih baik bagaimana cara bertetangga…..Semoga!

  • Perintis Bung Karno says:

    GANYANG MALAYSIA… LANJUTKAN “FINAL SOLUTION” UNTUK MEREKA DAN KURUNG MEREKA DI “CAMPS OF CONCENTRATION”! HIDUP BUNG KARNO… KALO BELIAU MASIH HIDUP, BELIAU AKAN MENANGIS KALO BELUM LAGI MENUMPAS MALAYSIA SAMPAI LENYAP DARI MUKA BUMI. HIDUPLAH INDONESIAKU! TERKUTUK INDONESIA! ALLAHU AKBAR!!!!

  • Go Indonesia says:

    Benar… mari bersatu mengahajar malaysia dan membalas perbuatannya dengan PERANG TERBUKA antara Indonesia dan Si Bajingan Malaysia! SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA! GANYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG MALAYSIA SUAK!

  • anti malaysia says:

    wahai orang Indonesia jangan pernah ke malaysia (kecuali kefefet). sebab anda bakal dikatai indon dan…. digebuki ala maling

    yg heran, masih ada orang indonesia yg membanggakan malaysia dan mencemooh negeri sendiri….. heran *garuk-garuk kepala*

  • Orang Malaysia says:

    Hello, saya orang Malaysia….. Ya, mari semua kita GANYANG Malaysia!

    Tapi gimana?

    Senang aja, balik rumah dan banyakkan bersholat semoga Indonesia menjadi negara maju….šŸ˜‰

  • tuah07 says:

    Ganyang itu senang saja untuk dibuat…tapi bagaimana dengan hampir 1 juta rakyat indonesia yang berkerja mencari rezeki di Malaysia untuk anak isteri mereka di Indonesia ?

    lebih malang, banyak kes pecah rumah, kecurian dan bunuh di kawasan johor (malaysia) serta pantai barat termasuk Kuala Lumpur dilakukan oleh rakyat indonesia.

    Dalam kes di atas, ia hanya kes terpinggir, tidak semua yang dalam polisi itu baik (barangkali sama dengan indonesia). kita akui.

    di tempat saya, terdapat hampir 200 orang pelajar dari indonesia dan mereka dapat belajar dengan sangat baik termasuk sehingga ke pringkat S2 (master) dan S3 (phd).

    di malaysia, kita baru saja mengumpul sejumlah RM100,000 untuk bantuan mangsa gempa bumi di Indonesia. (masih mau ganyang lagi?)

    TQ

  • alfredo says:

    Halo tuah07

    Pasti anda gembira yah banyak orang Indonesia datang ke negara anda. Banyak yang bekerja dan juga banyak yang belajar.

    Saya pernah jadi konsultan di Mimos dan Indosat. Disana saya banyak mendengar kepintaran dan kesuksesan mahasiswa Indonesia, terutama dengan penemuan-penemuan terbaru dan berujung kepada prosiding dan demo test di beberapa negara yang berminat dengan temuan itu.

    Sebut saja, Irwan Tasla, anak Pekan Baru, kuliah S2 dan S3 di Univ Malaya. Prosiding dan demo test temuannya dipaparkan di Jepang beberapa tahun lalu. Anda pasti tidak kaget, karena lisensi dan hak paten Irwan ternyata milik Univ Malaya (UM). Hak intelektual Irwan hanya dibayar sebatas studentship yang RM1300 sebulan itu selama 2 tahun.
    Anda tahu berapa harga patennya yang diambil UM?, ternyata setara dengan 10tahun Irwan mengabdi di UM hehehe -hebatkan UM. Pertama dapat royalty, kedua dapat nama harum di dunia Internasional atas nama Irwan.

    FYI Tuah07, banyak sekali mahasiswa seperti irwan di negeri anda, yang patennya diambil oleh kampus, dan tidak sedikitpun diberikan ke penemunya. Can you imagine that?

    Belum lagi kasus penipuan bisnis oknum orang Malaysia di Indonesia, belum lagi pemalsuan rokok gudang garam di Skudai Johore, belum lagi pemalsuan CPO, belum lagi pemalsuan beberapa paten seperti
    Obat Generik,
    Batik,
    Lagu Daerah,
    Senjata Tradiosional,
    Temuan-temuan mahasiswa,
    Design and Cluster Technology di PuteraJaya dan CyberJaya,
    Teknologi Aviation dan Kepabeanan KLIA (sepang international airport) dan banyak lagi.

    Saya hanya berpikir, sekiranya Pemerintah Indonesia melek atas hal ini, nggak perlu deh mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia yang hanya menang fasilitas saja. Sedangkan rektor dan dosen senior mereka lulusan ITB, IPB, UI dan UGM.

    Pesen saya untuk Pemerintah Indonesia… murahkan pendidikan … dan Indonesia akan SEMAKIN JAYA.

  • Sukarno Kecil says:

    Sebaiknya pemerintah Indonesia secepatnya menetapkan travel warning ke malingsia…karena mereka sudah dengan sombongnya memandang kita bangsa Indonesia sebagai babu,maid,jongos,kuli…

    Mari kita hidupkan lagi semangat Berdikari dan Ganyang Malaysia…

  • Persatuan INDONESIA says:

    Apapun etnis dan suku kita, ini saatnya kita harus sadar dan lebih bersatu menjadi bangsa Indonesia.
    Jangan ada lagi perpecahan diantara kita.
    Dan kita harus mengikis habis dulu penyakit “KKN” yang menyebabkan bangsa kita saat ini terpuruk dan di pandang rendah bangsa lain !! Tingkatkan pendidikan bangsa ini dan martabat bangsa !!
    Hukum mati pejabat yang melakukan korupsi lebih dari Rp. 1 milyard !!
    Tegakkan hukum, siapapun orangnya dia (pejabat, kiyai, pastur, biarawan, pribumi, Cina, Arab, bule, dll) bila melanggar beri hukum di Indonesia beri hukuman yang sama dan ADIL, contoh Singapura, kalau perlu hukum cambuk !!! saya sangat yakin Indonesia adalah bangsa yang terpandai didunia (terbukti salah satu bangsa kita ; George orang Irian yang dianggap suku primitif dapat menjadi juara dunia fisika) dan tanah air kita sangat kaya sekali untuk memakmurkan bangsa ini, tidak boleh lagi ada rakyat yang kekurangan gizi dan miskin seperti orang Afrika, MALU !!

    Perketat perbatasan dengan Malaysia !! Jangan ada lagi ILEGAL LODGING yang sangat merugikan bangsa kita ini !!
    Pemerintah kita harus menuntut dan menekan pemerintah Malaysia secara hukum untuk membayar gaji pekerja TKI kita yang penghasilannya ditahan dan tidak diberikan gaji sekian tahun !! Dasar Malaysia perampok !!! HARUS TEGAS !!!
    Kalau mereka kurang ajar terus kirim saja asap, tidak usah perang dengan mereka, untuk apa mengorbankan prajurit kita, peralatan tempur kita jauh ketinggalan dengan mereka !! Biar dengan asap itu mereka tidak bisa bernapas dan tidak bisa hidup sehat !!
    Sampai mereka sadar harus jadi Melayu yang berhati nurani baik dan bermoral kalau bertetangga dengan INDONESIA !!

  • idische says:

    wajar disangka tkw ilegal,tampang bin wajah babu n kuli lagak bisnismen?tampang orang kaya dan tampang singkong kelihatan jelas.gak bakal ketukar.makanya diam aja didesa.ngangon kebo
    untung belum dinyonyor rela.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Turis Indonesia Diancam Oknum Polisi Malaysia (lagi?) at the sky is not the limit.

meta

%d bloggers like this: